Gangguan Psikososial pada Lanjut Usia
Nama : Heni Subekti
NIM : P2.06.20.1.13.094
Tingkat : 1C
GANGGUAN PSIKOSOSIAL PADA LANJUT USIA
A. Konsep
Dasar
1. Pengertian
Menarik diri adalah
penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan
langsung menghasilkan perasaan berharga .Harga diri dapat diperoleh melalui
penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.Perkembangan harga diri juga
ditentukan oleh perasaan diterima,dicintai,dihormati oleh orang lain,serta
keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat,2006).
Isolasi adalah keadaan
dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan
untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat
kontak ( Carpenito, 1998 )
Isolasi sosial adalah
suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan
sikap yang negatif dan mengancam(Towsend,1998)
Seseorang dengan
perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu
merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk
membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan
untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan
dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi
pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998).
Dari segi kehidupan
sosial cultural, interaksi sosial adalah merupakan hal yang utama dalam
kehidupan bermasyarakat, sebagai dampak adanya kerusakan interaksi sosial :
menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomen kehidupan, yaitu
terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan
hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya.
2. Penyebab
Penyebab dari menarik
diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri,
hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan, yang ditandai dengan
adanya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri,
gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, percaya diri kurang, dan juga
dapat mencederai diri (Carpenito,L.J,1998:352)
3. Faktor
Predisposisi
Faktor predisposisi
terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat
mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut
salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang
lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan.
Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. Teori ini menunjukkan rentang faktor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi.
Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. Teori ini menunjukkan rentang faktor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi.
1. Faktor genetik, dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.
2. Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri.
3. Teori kehilangan objek, merujuk kepada perpisahan traumatik individu dengan benda atau yang sangat berarti.
4. Teori organisasi kepribadian, menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap sesuatu
5. Model kognitif menyatakan bahwa defresi, merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang, dunia seseorang, dan masa depan seseorang.
4. Faktor Presifitasi
Sedangkan faktor presipitasi dari
faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena
meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat
atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga
sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari
lingkungan (Stuart and sundeen, 1995).
5. Tanda dan Gejala
- Apatis, ekspresi, afek tumpul.
- Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari orang
lain.
- Komunikasi kurang atau tidak ada.
- Komunikasi kurang atau tidak ada.
- Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
- Berdiam diri di kamar/tempat berpisah – klien kurang mobilitasnya.
- Menolak hubungan dengan orang lain – klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
- Tidak melakukan kegiatan sehari-hari, artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.
6. Rentang Respon
1. Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.
2. Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3. Bekerjasama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
4. Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
5. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseoramg menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
6. Tergantung (dependen) terjadi bila seseorang gagal mengambangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses.
7. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
8. Curiga terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain. Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan dengan tanda-tanda cembru, iri hati, dan berhati-hati. Perasaan induvidu ditandai dengan humor yang kurang, dan individu merasa bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi.
7. Karakteristik Perilaku
• Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.
• Berat badan menurun atau meningkat secara drastis.
• Kemunduran secara fisik.
• Tidur berlebihan.
• Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama.
• Banyak tidur siang.
• Kurang bergairah.
• Tidak memperdulikan lingkungan.
• Kegiatan menurun.
• Immobilisasai.
• Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang).
• Keinginan seksual menurun.
B.
Permasalahan
Berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan Lanjut Usia, antara lain sebagai berikut:
1. Permasalahan Umum
a. Masih besarnya jumlah Lajut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan.
b. Makin melemahnya
nilai kekerabatan, sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang
diperhatikan, dihargai dan dan dihormati, berhubung terjadi perkembangan pola
kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk kelurga kecil.
c. Lahirnya kelompok
masyarakat industri, yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada
individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi, lugas
dan efisien, yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan lanjut usia.
d. Masih rendahnya
kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia dan masih
terbatasnnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut usia dengan
berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia.
e. Belum membudaya dam
melembaganya kegiatan pembinaan kesejateraan lanjut usia.
2. Permasalahan Khusus
Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1998), berbagai permasalahan khusus yang berkaitan dengan kesejahteraan lanjut usia adalah sebagai berikut:
a. Berlangsungnya proses menjadi tua, yang
berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental maupun sosial. Mundurnya keadaan
fisik yang menyebabkan penuaan peran sosialnya dan dapat menjadikan mereka
lebih tergantung kepada pihak lain.
b. Berkurangnya integrasi sosial Lanjut Usia,
akibat produktivitas dan kegiatan Lanjut Usia menurun. Hal ini berpengaruh
negatif pada kondisi sosial psikologis mereka yang merasa sudah tidak
diperlukan lagi oleh masyarakat lingkungan sekitarnya.
c. Rendahnya produktivitas kerja lanjut usia
dibandingkan dengan tenaga kerja muda dan tingkat pendidikan serta ketrampilan
yang rendah, menyebabkan mereka tidak dapat mengisi lowongan kerja yang ada,
dan terpaksa menganggur.
d. Banyaknya
lanjut usia yang miskin, terlantar dan cacat, sehingga diperlukan bantuan dari
berbagai pihak agar mereka tetap mandiri serta mempunyai penghasilan cukup.
e. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang
mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik, sehingga Lanjut Usia kurang
dihargai dan dihormati serta mereka tersisih dari kehidupan masyarakat dan bisa
menjadi terlantar. Di samping itu terjadi pergeseran nilai budaya tradisional,
dimana norma yang dianut bahwa orang tua merupakan bagian dari kehidupan
keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan didasarkan kepada suatu ikatan
kekerabatan yang kuat, dimana orang tua dihormati serta dihargai, sehingga
seseorang anak mempunyai kewajiban untuk mengurus orang tuanya. Di pihak lain,
dapat terjadi sebagian generasi muda beranggapan bahwa para lanjut usia tidak
perlu lagi aktif dalam urusan hidup sehari-hari. Hal ini akan memperburuk
integrasi sosial para lanjut usia dengan masyrakatlingkungannya, sehingga dapat
terjadi kesenjangan antara-generasi tua dan muda. Dengan demikian, sulit untuk
mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa ini secara terus-menerus dari
generasi ke generasi selanjutnya.
f. Adanya
dampak negatif dari proses pembangunan seperti dampak lingkungan, polusi dan
urbanisasiyang dapat mengganggu kesehatan fisik lanjut usia. Terkosentrasinya
dan penyebaran pembangunan yang belum merata menimbulkan ketimpangan antara
penduduk lanjut usia di kota dan di desa.

Comments
Post a Comment